THE FIRST VISIONARY WOMAN FROM JAVA WHO LIVES IN MADURA IN “THE ORIGIN OF THE WORD MADURA” STORY

  • Amir Mahmud Balai Bahasa Jawa Timur
Keywords: mount geger, visionary, work ethics, feminism

Abstract

The main character in the story of Bendoro Gung, King Sang Hyang Tunggal’s daughter, the ruler of Medang Kamulan Kingdom, Java, was told to be the first woman to live in Madura. The purpose of this research is to describe Bendoro Gung's visionary way of thinking while ruling in the plains of Mount Geger. From those values, we can strengthen work ethic and develop community productivity. The theory used in this research is feminism and the research method is descriptive qualitative. The results showed that Bendoro Gung was able to build a better and stronger personality. In fact, she was able to be independent even after receiving punishment from her father. She was able to implement education and religion as the basis for character building, develop a unity between Madurese and Javanese ethnic and equal the role of women in family and society. The values of Bendoro Gung’s ethic, based on the myth of Mount Geger, inspired the community and they decided to develop it as a tourism industry to grow the economy in Madura and also to introduce what kinds of function the folklore have.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alaydroes, Fahmi. (17 Januari 2008). “Kepemimpinan Visioner”. Diperoleh dari pendidikan-umat

blogspot.com

Anoegrajekti, Novi dan Sudartomo Macaryus. (2020). “Sastra Lisan Berbasis Industri Kreatif:

Ruang Penyimpanan, Pengembangan, dan Identitas”. Atavisme, 21 (1), hlm. 67.

Asmuni. (2017). “Kepemimpinan Visioner dalam Pengembangan Pendidikan Islam: Studi

kasus di yayasan Bani Hasum Kec. Singosari, kabupaten Malang”. Tesis. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibranim Malang.

Azhar, Iqbal Nurul. (2016). Morteka dari Madhura: Antologi Cerita Rakyat Madura, Edisi

Kabupaten Bangkalan (hlm. Viii--ix). Sidoarjo: Balai Bahasa JawaTimur.

Azhar, Iqbal Nurul. (2017). Oreng Madura: Keyakinan, Prinsip Hidup, dan Potensi

Tersembunyinya (hlm. 67). Yoyakarta: LkiS.

Azhar, Iqbal Njurul., Hani’ah, dan Erika Citra Sari H. (2019). MozaikCareta Dari

Madhura: Antologi Cerita Rakyat Para Penghuni Pulau Madura. Malang: Intelgensia Media.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2017). Kamus Besar Bahasa Indonesia (hlm. 1844).

Edisi Kelima. Jakarta: Kemendikbud.

Budiman, Arief. (1982). Pembagian Kerja Secara Seksual: Sebuah Pembahasan Sosiologis

Tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat (hlm. 2—3). Cetakan Kedua. Jakarta:

PT Gramedia.

Danandjaja, James. (1986). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain

(hlm. 67—75). Cetakan Kedua. Jakarta: Jakarta.

De Jonge, Huub. (1989). Agama, Kebudayaan, dan Ekonomi: Studi-Studi Interdisipliner Tentang

Masyarakat Madura (hlm. 182). Jakarta: Rajawali Press.

Endraswara, Suwardi. (2016). Sastra Ekologi: Teori dan Praktik Pengkajian (hlm. 334—35).

Yogyakarta: PT Buku Seru.

Fakih, Mansour. (1996). Analisis Gender & Transformasi Sosial (hlm. 148—149). Cetakan

Pertama. Yogyakarta: PustakaPelajar Offset.

Fattah, Zainal. (1951). Sedjarah Tjaranja Pemerintahan di Daerah-Daerah di Kepuauan

Madura dengan Hubungannja (hlm. 8). Pamekasan.

Hadi W.M., Abdul. (2007). “Madura: Sejarah, Sastra, dan Perempuan Seni”. Srinthil, 013, hlm. 88.

Moeleong, J. Lexy. (1998). Metodologi Penelitian Kualitatif (hlm.121). Jakarta: Balai

Pustaka.

Nguyen, Mariani. (12 Juli 2016). “Visioner”. Diperoleh dari http//meta-mind.com

Ratna, Nyoman Kutha. (2003). Paradigma Sosiologi Sastra Sastra (hlm. 166—167).

Yogyakarta: PustakaPelajar.

Rifai, Mien A. (1993). Lintasan Sejarah Madura (hlm. 11). Surabaya: Yayasan Lebbur Legga.

Santosa, Budi Tri dan Yesika Maya Ocktarani. (2020). “Dekonstruksi Narasi Subaltern Siti

Walidah dalam Naskah Drama Nyi Ahmad Dahlan (2017) Karya Dyah Kalsitorini: Pendekatan Subaltern Gayatri Sevivak”. Atavisme, 23,(1), hlm. 36.

Santoso, Widjajanti M. (2011). Sosiologi Feminisme: Konstruksi Perempuan Dalam Industri Media

(hlm. 144). Yogyakarta: LKiS.

Soegianto. (2003). Kepercayaan, Magi, danTradisi dalam Masyarakat Madura (hlm. 19—20).

Jember: Penerbit Tapal Kuda.

Soekanto, Soerjono. (1982). Teori Sosiologi tentang Pribadi dalam Masyarakat (hlm. 63). Jakarta: Galia Indonesia.

Sudikan, SetyaYuwana, dkk. (1993). Nilai Budaya dalam Sastra Nusantara di Madura (hlm. 1).

Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud.

Sukmawan, Sony. (2016). Ekokritik Sastra: Menanggap Sasmita Arcadia (hlm. 54).

Malang UB Press.

Tanpa Penulis. (19 Mei 2020). “Sikap”. Diperoleh dari http//lektur.id

Wahab, Abdul. (2011). “Masa Depan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah” (hlm. 155). Makalah

Kongres Bahasa Indonesia VIII.

Wibisono, Bambang. (2007). “Perilaku dan Etos Kerja Perempuan Madura”. Srinthil, 013

(hlm. 132).

Zubairi, A. Dardiri. (2013). RahasiaPerempuan Madura: Esai-Esai Remeh Seputar Kebudayaan

Madura (hlm. 91—92). Surabaya: Andhap Asor.

Published
2020-12-24
How to Cite
Mahmud, A. (2020). THE FIRST VISIONARY WOMAN FROM JAVA WHO LIVES IN MADURA IN “THE ORIGIN OF THE WORD MADURA” STORY. Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan Dan Kesastraan, 8(2), 171-183. https://doi.org/10.31813/gramatika/8.2.2020.347.171-183